Seorang-orang yang piawai itu tanganya dingin, apapun dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Tidak hanya raw-material [bahan mentah] diubah menjadi “finished good” [bahan jadi], namun ide dapat diubah menjadi kerjaan bisnis.
Seorang-orang yang piawai itu tanganya dingin, apapun dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Tidak hanya raw-material [bahan mentah] diubah menjadi “finished good” [bahan jadi], namun ide dapat diubah menjadi kerjaan bisnis. Tak terbayangkan sebelumnya, bahwa ide mampu “mengompori” orang untuk melejit ke awang-awang, dari gagasan awal yang berwujud ide menjelma menjadi sebuah kerajaan bisnis yang dahsyat.
Nokia menambah jajaran terbaru rangkaian ponsel E Series dengan merilis Nokia E63. Meski diperuntukkan bagi kalangan bisnis, ponsel ini dijanjikan dapat dimiliki dengan harga terjangkau. Konsep E63 terinspirasi dari keberhasilan Nokia E71. Nokia E63 menghadirkan papan ketik Qwerty dan tersedia dalam warna ruby red atau ultramarine blue dengan berbagai fitur multimedia, seperti perekam video, kamera digital dan tampilan landskap yang cerah. Anda pun bisa mendengarkan musik atau mengkoleksi lagu terbaru dengan mendownloada dari Nokia Music Store, atau dari sumber-sumber lainnya. Lewat jack audio 3,5mm suara yang diperdengarkan terbilang memuaskan.
Nokia E63 memiliki konektivitas Wi-Fi, akses mudah ke Mail for Exchange dan tombol khusus untuk akses buku telepon, kalender, dan email. Terdapat pula kemampuan untuk berpindah modus hanya dengan menekan sebuah tombol, berpindah dari tampilan email, jadwal dan data intranet korporat ke modus pribadi dengan foto teman-teman, email pribadi dan jalan pintas ke blog atau situs web favorit.
Fitur lainnya adalah Files on Ovi, sebuah layanan dimana orang bisa mengakses file-file di PC mereka dari jarak jauh ketika komputer mereka sedang tidak menyala. Setiap orang yang membeli ponsel ini akan memiliki akses penyimpanan file online sebesar 1GB secara gratis. Harga perdana ponsel ini relatif murah dibandingkan E Series lainnya yakni sekitar 199 euro atau di bawah Rp 3 juta, sebelum pajak dan subsidi.
Televisi masuk ke Indonesia (tepatnya Jakarta) tahun 1962, berbarengan dengan penyelenggaraan Asian Games ke 4, dan kemudian menyebar ke daerah2 lain....